counter

Sabtu, 06 Juni 2020

Kesimpulan Sharing Session Tentang Damai Waisak Dalam Pandemi

Kesimpulan Sharing Session Tentang Damai Waisak Dalam Pandemi

 

Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang (KMBP) pada hari minggu tanggal 10 Mei 2020 telah melaksanakan sharing session secara online dengan tema “Damai Waisak Dalam Pandemi”. Sharing session kali ini dipandu oleh Kepala Divisi Sumber Daya Manusia KMBP yang bernama Ardin Wijaya dengan narasumber selaku Pembimbing Masyarakat (Pembimas) agama Buddha provinsi Sumatera Selatan yaitu Pak Wiswadas S.Ag., M.Ikom.

Tema kali ini diangkat berdasarkan situasi Waisak yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tanggal 7 Mei lalu kita merayakan Hari Raya Waisak dari rumah untuk mengantisipasi tertularnya virus Covid-19. Tujuan KMBP melaksanakan sharing session ini adalah agar kita dapat merayakan Hari Raya Waisak dengan damai dan sukacita, mengisi kekosongan batin serta mempraktekkan dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang bertanya tentang bagaimana cara kita merayakan Waisak dengan sukacita ditengah pandemi? Sebenarnya umat Buddha dapat merayakan Waisak dalam kondisi apapun. Kita harus siap dan mampu belajar dengan hukum anicca bahwa segala sesuatu terus berubah / tidak kekal. Waisak kali ini dihadapkan dengan wabah virus Covid-19, dimana kita tidak dapat bertemu dan berkumpul bersama. Namun, kita dapat merayakan Waisak secara sederhana dan bermakna dengan dirumah saja bersama keluarga.

Pada Waisak kali ini kita harus banyak merenungkan sebab masa lampau yang akhirnya berakibat pada munculnya virus Covid-19 hari ini. Hal tersebut berjalan sesuai hukum paticca samuppada (hukum sebab-akibat) yang saling bergantungan. Kemudian yakinnlah pada ajaran tilakkhana bahwa segala sesuatu akan mengalami perubahan (sabbe sankara annica). Kita harus percaya bahwa musibah ini akan mengalami perubahaan dan para Buddha, Bodhisattva, dewa dan dewi akan menjaga, memberikan bimbingan dan solusi untuk musibah ini.

Sabda Sang Buddha juga menghimbau umatnya untuk selalu berpikiran positif agar menjadi sukses, bahagia, dekat dengan para Buddha dan segala ketakutan menjadi sirna. Kita juga bisa membaca Tripitaka sebagai pedoman dan dasar pikiran. Selain itu, menanamkan kesabaran, pengendalian diri dan memiliki keyakinan adalah sikap-sikap yang harus ditumbuhkan untuk merasakan kebahagiaan dibalik penderitaan selama pandemi virus Covid-19 ini.

Dalam sharing session kali ini tentunya dibuka kesempatan untuk bertanya bagi teman-teman yang ingin tahu lebih dalam tentang tema “Damai Waisak Dalam Pandemi”. Berikut beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh teman-teman kita:

Ø Dari @Vandy_99:  Saya sering lupa bersyukur dan selalu mengeluh saat dihadapkan dengan dukkha. Bagaimana cara mengatasinya, Pak?

ü Pak Wis:   Bersyukur adalah sebuah rutinitas yang harus kita biasakan dalam kondisi apapun dan akan bermanfaat untuk menciptakan rasa bahagia dan mendewasakan diri sendiri. Terkadang kita lupa untuk bersyukur ketika mendapatkan keberuntungan dan selalu mengeluh ketika mendapatkan penderitaan. Terkadang penderitaan datang agar kita lebih bersyukur. Bersyukur dapat dilakukan dengan cara bermeditasi, membaca paritta, melakukan kebajikan dan membantu orang lain.

 

Ø Dari @sheilamitha:  Bagaimana cara mendamaikan kerabat yang sedang mengalami masalah ekonomi, kesehatan, atau masalah lain akibat virus Covid-19?

ü Pak Wis: Damaikan dan tenangkan diri kita terlebih dahulu. Dengan hati yang tenang, kita dapat berpikir dan membantu orang lain dengan memberikan banyak solusi. Contohnya melakukan aksi sosial dengan membagikan masker, makanan dan sembako merupakan hasil dari kedamaian dan ketenangan diri kita. Maka yang pertama harus kita lakukan adalah menenangkan diri sendiri terlebih dahulu agar dapat membantu sesama.

 

Ø Dari @Riohuang:  Apakah Bapak melaksanakan atthasila (puasa Buddhis) satu bulan sebelum Waisak? Bolehkah dijelaskan hal tersebut?

ü Pak Wis:  Saya terbiasa bervegetarian sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), tetapi terkait dengan atthasila, saya tidak melakukannya pada awal persiapan Waisak. Namun, meditasi sudah menjadi rutinitas saya dari pagi, siang, sore, dan malam yang juga dapat menjadi pahala kebajikan pada Hari Raya Waisak.

 

Ø Dari @aldobeckham6: Bagaimana cara agar dapat bahagia dengan dirumah saja?

ü Pak Wis: Dengan membuat suatu catatan di kertas dan tulislah 10 perbuatan menyenangkan selama masa pandemi Covid-19. Contohnya dengan menuliskan bahwa karena virus Covid-19 kita menjadi lebih dekat dengan keluarga. Dengan catatan tersebut, kita menjadi bahagia ketika berada di rumah karena catatan tersebut dapat tersimpan ke dalam memori pikiran kita. Hal ini membuat kita tidak akan menderita. Berusaha mencari hal-hal positif demi menutupi hal-hal yang negatif, akan membuat pikiran kita menjadi bahagia.

 

Ø Dari @Tharissa lorensia: Tips meditasi untuk pemula?

ü Pak Wis: Biasanya saya punya jadwal rutinitas meditasi di 3 tempat yaitu di Vihara Prajna Shanti di hari Selasa jam 19.30 malam, di vihara Amitabha Graha dan di Vihara Dharma Khirti hari Rabu dan Jumat jam 09.30 pagi. Karena kondisi pandemi Covid-19 ini, saya melakukan meditasi di hari Rabu pukul 19.00 malam untuk merenungkan dan membangkitkan kualitas diri.

Penulis: Yenny Soneta
Editor: Sheila Mitha Kalyani dan Erwin


Go Follow!

Instagram : Cittamagz


Youtube : Cittakmbp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar