counter

Rabu, 31 Maret 2021

Profil Dewa Jodoh

 



    Yue Xia Lao Ren 月下老人 disebut Yue Leo Gong 月老公 (Gwat Loo Kong -Hokkian) yang berarti "orang tua dari bulan". Dewa yang bernama Yuè Xià Lǎorén (月下老人), kadang juga dipanggil sebagai Yuè Lǎo (月老) atau Dewa jodoh. Menurut para ahli sejarah, pemujaan Yue Xia Lao Ren, dimulai pada jaman Dinasti Tang. Dikisahkan pada tahun Zhen-guan ke-2 (628 Masehi)

    Dewa jodoh memiliki tugas mulia untuk urusan cinta dan pernikahan umat manusia. Siapapun yang sudah dipasangkan olehnya, tidak akan bisa terpisahkan. Ia sering diceritakan dalam wujud kakek tua di bawah bulan. Konon kabarnya, mereka yang sudah terikat oleh tali merah dari Dewa Yue Lao pasti bersatu bagaimanapun juga. Beliau secara khusus mengurus sebuah buku yang memuat perjodohan. Pria dan wanita yang telah tercatat dalam “buku jodoh” itu boleh menjadi suami istri di dunia.

    Pada masa kini, bagi pria dan wanita yang masih berstatus single bisa bersembahyang di depan altar Yue Lao untuk meminta jodoh. Bagi yang sudah berpacaran  juga bisa bersembahyang di altarnya, agar diberikan jalan yang baik hingga bisa langgeng sampai ke tahap pernikahan. Sementara bagi pasangan yang akan menikah, mereka dianjurkan untuk bersembahyang di depan altar Yue Lao sambil membawa kain merah, agar Yue Lao bisa segera mengikat jodoh mereka.

    Konon ada satu kepercayaan, kalau asap hio yang di tancapkan oleh pasangan muda-mudi di depan altar Yue Lao bersatu dan naik membumbung bersama, maka pasangan ini memperoleh restu dari Dewa Yue Lao untuk menjadi suami-istri. Namun, apabila asap hio tersebut berpencar ke segala arah laiknya terkena angin, maka hubungan mereka tidak boleh berlanjut, karena diyakini akan berakhir dengan sia-sia.

Hari kebesaran Dewa Yue Lao diperingati setiap tanggal 15 bulan 8 Imlek Pek Gwee Cap Go, yang juga merupakan hari festival kue bulan (Mid Autumn Fest).


Pesan dari Dewa Yue Lao (Dewa Jodoh):

  1. Sebenarnya tiap orang punya banyak jodoh dalam pernikahan, tetapi hanya satu yang paling berkesan dan mendampingi seseorang sampai salah satunya mati.
  2. Orang mempunyai jodoh masa kecil, masa remaja, muda, dewasa, dan tua. Semua itu diperuntukkan untuk mendampingi manusia dan berbagi dimasa kesulitan, kesakitan, dan penderitaan. Orang tidak dapat berjodoh dengan sembarang orang, tetapi hanya pada orang-orang yang datang pada setiap fase usianya.
  3. Tali merah yang aku berikan itu mengikat kelingking kakimu dan kakinya. Bila jodoh, sinar punggung kaki, jari kaki kedua manusia itu akan berwarna kuning keemasan.
  4. Jika seseorang sulit punya jodoh, orang itu jarang melakukan fangshen, melepaskan hewan-hewan kembali ke alamnya dan bertemu jodohnya masing-masing.
  5. Bila orang itu sering bertengkar dengan jodohnya, orang itu jarang meminta berkat pendamaian dari dewata yang damai (bisa dewi kwan im), dan terlalu sibuk memikirkan uang, dan keinginan yang tak pernah habis.

Sumber : 


Penulis : Tasya
Editor   : Yenny Soneta


Rabu, 24 Maret 2021

Ajak Anggota Menanam Karma Baik, KMBP Melakukan Kegiatan KMBP CARE

 

         
         

Palembang, @Cittamagz- Hari Minggu (21/03), Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang atau yang lebih dikenal dengan sebutan KMBP melakukan sebuah kegiatan sosial, yaitu KMBP CARE (Create a Real Effulgence). Kegiatan ini bertujuan untuk membantu mereka yang sedang memperjuangkan nasibnya sebagai harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik. Target bantuan KMBP CARE adalah mereka dengan kondisi perekonomian yang sulit, mereka yang sedang merintis usaha tetapi usahanya belum layak dikatakan sebagai usaha dan target prioritas kegiatan ini adalah mereka yang sudah berkeluarga.

"Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengirimkan Saya malaikat penolong, yaitu anggota KMBP. Saya sampai nggak tahu mau ngomong apa lagi. Intinya saya sangat terbantu dengan diadakannya kegiatan ini." Ucap salah satu target bantuan KMBP CARE yang ada di lokasi Kenten.

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan acara oleh MC, kata sambutan dari Ketua Pelaksana acara, kata sambutan dari Ketua Umum KMBP, dan kata sambutan dari Kepala Dewan Pengawas KMBP yang sekaligus membuka acara KMBP CARE secara resmi. Setelah itu, penyerahan barang secara simbolis dan doa bersama yang dilakukan di Aula Vajragiri, Vihara Dharmakirti, kemudian dilanjutkan dengan pemberian dan peletakkan barang-barang yang yang telah disiapkan, serta pembersihan di rumah target bantuan (3 lokasi: Bukit, Kenten dan Sekip).

Mengingat kondisi Pandemi Covid-19 yang belum mereda di wilayah kota Palembang, kegiatan ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, yaitu mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker medis, menggunakan sarung tangan plastic, serta membatasi terjadinya kerumunan di suatu tempat.

Keven Mandari selaku Ketua Pelaksana Kegiatan KMBP CARE mengatakan bahwa kegiatan ini sudah berjalan sesuai dengan rencana, akan tetapi ada beberapa kendala yang terjadi pada saat acara berlangsung. Namun, masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik.

"Harapan saya apabila acara ini ada lagi, semoga acaranya bisa lebih besar lagi, semoga bisa membantu lebih banyak orang lagi, dan apabila ada acara baik yang seperti KMBP CARE ataupun acara lainnya untuk next panitia perkuat solidaritas, kerjasama, komunikasi, dan luangkan waktu untuk menyukseskan acaranya." Lanjut Keven.

Penulis: Chelline Nandya