counter

Rabu, 24 Juni 2020

Snack Tahu Vegetarian

Snack Tahu Vegetarian

Snack tahu vegetarian adalah salah satu camilan sehat karena berbahan dasar tahu. Snack ini sangat mudah dimasak karena dapat dilakukan dalam waktu yang singkat dan   hanya membutuhkan sedikit bahan untuk membuatnya. Tekstur yang crunchy membuat camilan ini cocok dimakan saat bersantai dengan keluarga atau ketika bermain game bersama teman baik Kamu juga bisa menambahkan saus atau mayones sesuai selera untuk membuat tahu vegetarian menjadi lebih enak dan lezat. Yuk teman - teman cobain resepnya dirumah.

 

 Bahan bahan :

  1. 120 gr tahu
  2. 40 gr tepung tapioka atau maizena
  3. 1 sdt kaldu jamur
  4. ½ sdt baking powder

 

 Cara membuat :

  1. Masukan tahu, tepung tapioka/maizena, kaldu jamur, dan baking powder ke dalam plastik menjadi satu.
  2. Lalu hancurkan dan pastikan halus merata. 
  3. Lubangi ujung plastik. 
  4. Panaskan minyak kemudian keluarkan adonan sedikit demi sedikit dengan bentuk yang memanjang.
  5. Goreng adonan dengan api sedang sampai warna adonan berubah kecokelatan.
  6. Tiriskan dan tuang snack ke wadah yang beralaskan tisu dapur. 
  7. Simpan dalam wadah kedap udara agar snack tetap renyah.
  8. SNACK TAHU VEGETARIAN SIAP DIHIDANGKAN :)

Penulis: Cessy Adelya.
Editor: Sheila Mitha Kalyani & Erwin


 Go Follow!

Instagram : Cittamagz


Youtube : Cittakmbp

Rabu, 17 Juni 2020

Pancasila Buddhis dalam Kehidupan Kita

Penerapan Pancasila Buddhis Dalam Kehidupan Sehari-hari


Pancasila adalah ajaran dasar moral agama Buddha, yang ditaati oleh para pengikut Siddhartha Gautama. Kata Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta pañcaśīla dan bahasa Pali pañcasīla yang berarti ‘lima kemoralan’ atau ‘lima nilai moral’. Pancasila Buddhis digunakan sebagai pedoman hidup untuk seseorang yang akan memasuki kehidupan beragama Buddha. Sang Buddha pernah bersabda bahwa,

“Barang siapa sempurna dalam sila dan mempunyai pandangan terang, teguh dalam dhamma, selalu berbicara benar dan memenuhi segala kewajibannya, maka semua orang akan mencintainya (Dhammapada, XVI: 217)”.

Sebagai umat Buddha, Pancasila Buddhis sebaiknya dilaksanakan dengan tekun dan ketat, sesuai ajaran Sang Buddha. Lima sila ini apabila dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membawa  manfaat yang sangat banyak, salah satunya mendapatkan perlindungan dari Sang Buddha. Pancasila dalam agama Buddha terdiri dari lima latihan moral, yaitu:

1. Pāṇatipātā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi

 

Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Sebagai umat Buddha, kita seharusnya menghindari perilaku membunuh makhluk hidup. Ada 5 faktor untuk dapat disebut membunuh, yaitu:

  • Ada makhluk hidup.
  • Mengetahui bahwa makhluk itu masih hidup.
  • Berpikir untuk membunuhnya.
  • Berusaha untuk membunuhnya.
  • Makhluk itu mati sebagai akibat dari usaha tersebut.

Penerapan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari ialah dengan tidak membunuh makhluk hidup baik manusia maupun hewan besar dan kecil (nyamuk, semut atau hewan lainnya). Tanamkanlah cinta kasih dan rasa sayang kepada sesama makhluk hidup. Karena sila-sila erat kaitannya dengan karma, dipastikan kita akan memperoleh karma buruk jika melanggar sila pertama ini. Adapun akibat-akibat dari melanggar sila pertama, yaitu;

  • Lahir kembali dalam keadaan cacat.
  • Mempunyai wajah yang buruk.
  • Mempunyai perawakan yang jelek.
  • Berbadan lemah dan berpenyakitan.

 

2. Adinnādānā veramaṇi sikkhāpadaṁ samadiyāmi

 

Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian. Semua agama juga mengajarkan untuk tidak mencuri. Sang Buddha pernah berkata kepada para bhikkhu bahwa mencuri akan mengakibatkan penderitaan bagi si pencuri, seperti yang dituliskan dalam Saṁyutta Nikāya (III, 15) di bawah ini:

Ia akan terus merampok/mencuri, hingga saat tindakan tersebut menjadi penyebab kematiannya”.

Ada 5 faktor untuk dapat disebut mencuri, yaitu sebagai berikut:

  • Ada sesuatu barang/benda milik pihak lain.
  • Mengetahui barang itu ada pemiliknya.
  • Berpikir untuk mencurinya.
  • Berusaha untuk mencurinya.
  • Berhasil mengambil barang itu melalui usaha tersebut.

Penerapannya sila ini dalam kehidupan sehari-hari ialah tidak mencuri barang yang bukan milik kita sendiri. Seseorang hendaknya memiliki rasa saling menghargai terhadap kepemilikan orang lain. Jadi, dengan menghargai kepemilikan orang lain, kita juga menghargai benda yang kita miliki. Karena sila erat kaitannya dengan karma, dipastikan kita akan memperoleh karma buruk jika melanggar sila kedua ini. Akibat yang ditanggung saat melanggar sila kedua, yaitu:

 

  • Tidak begitu mempunyai harta benda dan kekayaan.
  • Terlahirkan dalam keadaan melarat atau miskin.
  • Menderita kelaparan.
  • Tidak berhasil memperoleh apa yang diinginkan dan didambakan.
  • Menderita kebangkrutan atau kerugian dalam usaha atau pekerjaan.
  • Sering ditipu atau diperdaya.
  • Mengalami kehancuran karena bencana atau malapetaka.

 

3. Kāmesu micchācārā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi

Aku bertekad untuk menghindarkan diri dari perbuatan asusila. Menahan diri merupakan hal yang terpenting dalam ajaran Buddha. Oleh karena itu, kita harus baik-baik menjaga perilaku agar tidak melanggar sila ketiga ini. 

Ada 4 faktor untuk dapat disebut berzinah, yaitu:

  • Ada objek yang tidak patut digauli.
  • Mempunyai pikiran untuk menyetubuhi objek tersebut.
  • Berusaha menyetubuhi.
  • Berhasil menyetubuhi, dalam artian berhasil memasukkan alat kemaluannya ke dalam salah satu dari tiga lubang (mulut, anus, atau liang peranakan) walaupun hanya sedalam biji wijen.

Penerapan sila ke-3 ini dalam kehidupan sehari-hari ialah untuk menjauhkan diri kita dari perbuatan zinah, perkosaan, dan perselingkuhan.  Untuk itu, kita harus menjaga perilaku sebaik mungkin agar pelanggaran sila ketiga ini tidak muncul. Akibat dari melanggar sila ketiga, yaitu:

  • Mempunyai banyak musuh.
  • Dibenci banyak orang.
  • Sering diancam dan dicelakai.
  • Terlahirkan sebagai orang yang mempunyai orientasi seks yang salah (homo/lesbian).
  • Mempunyai kelainan jiwa.
  • Diperkosa orang lain.
  • Sering mendapat aib/malu.
  • Tidur maupun bangun dalam keadaan gelisah.
  • Tidak begitu disenangi oleh laki-laki maupun perempuan.
  • Gagal dalam menjalin hubungan.
  • Sukar mendapat jodoh.
  • Tidak memperoleh kebahagiaan dalam berumahtangga.
  • Terpisahkan dari orang yang dicintai.

 

4. Musāvādā Veramaṇi Sikkhāpadaṁ Samādiyāmi

Aku bertekad akan melatih diri untuk menghindari kebohongan. Kita sebagai umat Buddha harus menghindari berkata yang tidak benar/berbohong dan selalu berkata sopan agar tercipta suasana yang tenang, damai, dan harmonis. Sesuai sabda Sang Buddha:

Seseorang seharusnya mengucapkan hanya ucapan yang menyenangkan, ucapan yang disambut dengan gembira. Ketika diucapkan tidak membawa keburukan, apa yang diucapkan adalah menyenangkan bagi orang lain”. (Saṁyutta Nikāya, 2010 : 287)

Ada 4 faktor untuk dapat disebut berdusta, yaitu:

  1. Ada sesuatu yang tidak benar.
  2. Mempunyai pikiran untuk berdusta.
  3. Berusaha berdusta.
  4. Pihak lain mempercayainya.

Penerapan sila ke-4 dalam kehidupan sehari-hari ialah dengan menghindari perkataan dusta dan berusaha untuk berbicara dengan benar dan gembira. Suatu perkataan sebaiknya mengandung makna dan bermanfaat, sehingga orang yang mendengar merasa senang dengan ucapan kita. Berbicara benar dalam hidup bermasyarakat akan menciptakan suasana yang tenang, karena tidak ada kebohongan di antara semuanya.

Akibat dari melanggar sila ke-4 adalah sebagai berikut:

  • Bicaranya tidak jelas.
  • Giginya jelek dan tidak rata/rapi.
  • Mulutnya berbau busuk.
  • Perawakannya tidak normal, terlalu gemuk atau kurus, terlalu tinggi atau pendek.
  • Sorot matanya tidak wajar.
  • Perkataannya tidak dipercaya oleh orang-orang terdekat atau bawahannya.

 

5. Surāmeraya Majjapamādaṭṭhānā Veramaṇi Sikkhāpadaṁ Samādiyāmi

Aku bertekad akan melatih diri menghindari minuman keras yang dapat melemahkan kesadaran. Seseorang yang melanggar sila kelima ini dan akhirnya kehilangan kesadaran bisa mengakibatkan hilangnya kendali atas pikiran, ucapan, dan perbuatan, sehingga tanpa sadar melakukan hal yang dapat mendatangkan karma buruk.

Ada 3 faktor untuk dapat disebut mabuk-mabukkan, yaitu:

  • Ada sesuatu yang membuat nekat, mabuk, tak sadarkan diri, yang menjadi dasar kelengahan dan kecerobohan.
  • Mempunyai keinginan untuk menggunakannya.
  • Timbul gejala mabuk atau sudah menggunakan (meminumnya) hingga masuk kerongkongan.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari ialah dengan melatih kesadaran kita terhadap segala hal yang dapat memperlemah pengendalian diri dan kewaspadaan. Berupayalah untuk mengontrol pikiran secara benar dan selalu waspada terhadap segala tindakan yang kita perbuat. Seperti contohnya menghindari minum minuman berakohol yang dapat membuat kesadaran kita melemah.

Akibat dari melanggar sila ke-5:

Buddha telah menekankan dalam Anguttara Nikaya dan Sutta Pittaka tentang besarnya akibat negatif yang ditimbulkan dari keadaan mabuk, yaitu:

 

“Duhai para Bhikkhu, peminum minuman keras secara berlebihan dan terus-menerus niscaya dapat  menyeret seseorang ke dalam alam neraka dan alam binatang. Akibat paling ringan ditanggung oleh mereka yang karena kebajikan lain, terlahirkan sebagai manusia, ialah menjadi orang yang memiliki kelainan jiwa/gila”

Berdasarkan uraian di atas kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa setiap hal yang terjadi dalam diri kita, pasti memiliki sebab dan akibat. Jika kita menghilangkan penyebabnya dengan menjalankan dan mempraktekkan sila, maka kita akan hidup damai dan bahagia. Setiap pelanggaran sila yang dilakukan akan mendapatkan karma buruk. Meskipun hanya dengan berpikir saja atau berniat untuk melakukan pelanggaran sila, tetap timbul karma buruk atas niat melanggar sila. Hal ini dikarenakan karma adalah perbuatan yang didasari oleh niat, yang dilakukan baik melalui pikiran, ucapan atau perbuatan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya sebagai umat Buddha sebaiknya menjalankan dan mempraktekkan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta dunia yang aman, damai, tentram, dan bahagia.

Penulis: Yenny Soneta
Editor: Sheila Mitha Kalyani dan Erwin


Sumber Bacaan:
Wikipedia. 2020, Pancasila (Buddha), Diakses tanggal 16 Juni 2020 dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila_(Buddha).

Nibbana.id, Pancasila Buddhis, Diakses tanggal 16 Juni 2020 dari https://nibbana.id/pancasila-buddhis/.

HikmahBudhi, Diakses tanggal 16 Juni 2020 dari https://majalah-hikmahbudhi.com/.


 Go Follow!

Instagram : Cittamagz


Youtube : Cittakmbp

Sabtu, 13 Juni 2020

How to Survive Your Business During Corona Pandemic

Kesimpulan Sharing Session tentang ”How to Survive Your Business During Corona Pandemic”

           




Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang (KMBP) pada hari Minggu, 17 Mei 2020 telah melaksanakan sharing session secara online melalui live Instagram dengan tema “How to Survive Your Business During Corona Pandemic”. Sharing session kali ini dibawakan oleh Sheila Mitha Kalyani sebagai Ketua Badan Seni Otonom Citta dengan narasumber yang bernama Denny Ang. Denny Ang berasal dari Surabaya dan berprofesi sebagai business coach, speaker, serta author yang sudah sangat berpengalaman di bidang bisnis. Beliau sering mengadakan seminar dan menjadi trainer untuk meningkatkan pendapatan klien menjadi lebih banyak atau berkali lipat lebih besar.

Dilatarbelakangi karena melihat kondisi ekonomi negara Indonesia yang kurang baik, kondisi pasar yang agak lesu, banyak masyarakat yang tidak leluasa berbelanja karena pembatasan sosial, juga banyak orang yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang membuat daya beli masyarakat menjadi menurun. Tujuan KMBP mengangkat tema ini adalah untuk memberikan manfaat, inspirasi serta wawasan tentang bagaimana cara mempertahankan bisnis agar tetap lancar selama masa pandemi virus Corona.

Akibat pandemi ini, masyarakat mengubah kebutuhan primer dan lebih memilih untuk membeli alat kesehatan guna melindungi diri dari virus Corona. Lantas, bagaimana dengan kondisi bisnis dari sektor lain? Seperti bisnis di bidang fashion, restoran, barang elektronik, dan sektor-sektor lain yang menjadi sedikit peminat dan terhambat operasinya? Ini menjadi salah satu Pekerjaan Rumah (PR) bagi kita untuk mempertahankan bisnis agar tetap berjalan lancar selama masa pandemi virus Corona.

Kesalahan yang banyak orang lakukan ketika berbisnis adalah perasaan bingung terhadap produk yang ingin dijual. Kesalahan lain yang paling fatal adalah ketika pebisnis justru jatuh cinta dengan produk, sehingga kurang memperhatikan pelanggan (customer). Hal ini membuat pebisnis tidak bisa memberikan nilai (value) kepada pelanggan.

Pada dasarnya, berjualan adalah memberi nilai dan solusi. Hal pertama yang harus dilakukan untuk memulai bisnis adalah bukan fokus pada produk yang ingin dijual, tetapi fokus pada audience, pasar, dan solusi yang bisa diberikan. Selanjutnya, langkah yang paling penting adalah bagaimana menyesuaikan barang yang ditawarkan dengan kebutuhhan banyak orang.

Jika kita bisa berjualan, artinya kita sudah bisa berbisnis. Orang yang sudah memiliki bisnis sebaiknya merapikan kembali database pelanggannya. Berikutnya, untuk yang baru ingin memulai bisnis, sebaiknya menentukan siapa yang perlu mereka bantu.  

Jadi, cara mempertahankan bisnis kita adalah sebagai berikut:

1. Kita harus mengetahui siapa pelanggan yang akan kita tuju, sehingga kita dapat memberi nilai (value) yang berarti kepada pelanggan.

2. Susunlah database seperti list pelanggan. Pastikan antara pebisnis dan pelanggan untuk saling menyimpan nomor telepon untuk memperlancar komunikasi.

Penulis: Melyssa Herman
Editor: Sheila Mitha Kalyani dan Erwin


 Go Follow!

Instagram : Cittamagz


Youtube : Cittakmbp

Kamis, 11 Juni 2020

Tokoh Inspiratif Master Cheng Yen (pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi)



Tokoh Inspiratif Master Cheng Yen (pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi)"




Pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi yaitu Master Cheng Yen, dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1937 di Chingsui, Taiwan bagian tengah. Wafatnya sang Ayah di tahun 1960 membuat beliau memahami bahwa hidup ini hanyalah sementara dan selalu berubah. Sejak saat itu, beliau mulai mempelajari agama Buddha secara lebih serius sebelum akhirnya menjalani hidup sebagai bhiksuni pada tahun 1964.

Pada tahun 1966, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya datang ke balai pengobatan di Fenglin untuk mengunjungi seorang umat yang menjalani operasi akibat pendarahan lambung. Ketika keluar dari kamar pasien, Master Cheng Yen melihat bercak darah di atas lantai tetapi tidak terlihat adanya pasien. Dari informasi yang diperoleh, diketahui bahwa darah tersebut milik seorang wanita penduduk asli Gunung Fengbin yang mengalami keguguran. Karena tidak mampu membayar NT$ 8.000 (sekitar Rp 2,4 juta), wanita tersebut tidak bisa berobat dan terpaksa harus dibawa pulang. Mendengar hal ini, perasaan Master Cheng Yen sangat terguncang. Seketika itu beliau memutuskan hendak mengumpulkan dana amal untuk dan menyumbangkan semua kemampuan yang ada pada dirinya untuk menolong orang yang menderita sakit dan miskin di Taiwan bagian timur.

Pada awal berdiri, kegiatan kemanusiaan Tzu Chi memiliki anggota sebanyak 6 orang bhiksuni (Master Cheng Yen dan 5 muridnya). Untuk mengumpulkan dana kegiatan kemanusiaan, Tzu Chi memiliki kegiatan merajut sepasang sepatu bayi serta memberikan celengan bambu untuk para anggotanya. Tujuan Master Cheng Yen memberi anggotanya celengan bambu adalah agar para ibu rumah tangga setiap pagi sebelum pergi berbelanja ke pasar, menghemat dan menabung 50 sen ke dalam celengan bambu tersebut. Dari 30 anggota, terkumpul 450 dolar setiap bulan, ditambah hasil pembuatan sepatu bayi 720 dolar, maka setiap bulan total terkumpul 1.170 dolar sebagai dana bantuan untuk fakir miskin. Kabar dari berdirinya kegiatan kemanusiaan Tzu chi menyebar cepat ke berbagai tempat di Hualien dan membuat banyak orang tertarik untuk ikut berpartisipasi dalam yayasan tersebut. Pada tanggal 14 Mei
1966, Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi secara resmi terbentuk.

 

 

Teladan yang bisa ditiru dari Master Cheng Yen adalah sikap menebarkan cinta kasih universal kepada semua umat dan makhluk tanpa memandang perbedaan apapun. Ketulusan, kepercayaan dan kebijaksanaannya telah membuat sebuah dunia yang indah. Dunia memang seharusnya menjadi dunia yang satu keluarga. Sikap bajik dan mulia dari Master Cheng Yen sepatutnya dapat kita tiru untuk menciptakan dunia damai, harmonis dan satu keluarga.

Bagi penulis, Master Cheng Yen dapat menjadi sosok inspirasi karena yayasan Buddha Tzu Chi saat ini adalah organisasi yang telah berada di sekitar 45 negara. Disini ada sosok perjuangan, kepercayaan dan kegigihan dari seorang bhiksuni dan relawannya yang tidak semudah membalikan telapak tangan dalam membangun Yayasan Tzu Chi. Yayasan yang pada awalnya hanya memiliki 6 anggota tetapi saat ini sudah memiliki banyak anggota. Yang awalnya hanya bermula di Taiwan tetapi saat ini sudah berkembang pesat di beberapa negara. Disini perjuangan Master Cheng Yen sangatlah mulia. Teladan Beliau dalam menyebarkan cinta kasih penuh dengan perjuangan tanpa pamrih untuk menjadikan dunia menjadi satu keluarga.

Penulis akhiri dengan sebuah quote yang dapat memberi semangat:
"Ketika kita menganggap kegagalan adalah pengalaman dan harta yang paling berharga, kita berhasil membangun sebuah kehidupan yang sehat dan penuh semangat."

Penulis: Melita
Editor: Sheila Mitha Kalyani & Erwin

Sumber Bacaan:

https://www.indozone.id/news/lNsroe/mengenal-sosok-master-cheng-yen-dan-yayasan-buddha-tzu-chi

https://www.kompasiana.com/juls/54ff9a4ca33311874a510cc3/resensi-master-cheng-yen-teladan-cinta-kasih

 

 Go Follow!

Instagram : Cittamagz


Youtube : Cittakmbp

Sabtu, 06 Juni 2020

Kesimpulan Sharing Session Tentang Damai Waisak Dalam Pandemi

Kesimpulan Sharing Session Tentang Damai Waisak Dalam Pandemi

 

Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang (KMBP) pada hari minggu tanggal 10 Mei 2020 telah melaksanakan sharing session secara online dengan tema “Damai Waisak Dalam Pandemi”. Sharing session kali ini dipandu oleh Kepala Divisi Sumber Daya Manusia KMBP yang bernama Ardin Wijaya dengan narasumber selaku Pembimbing Masyarakat (Pembimas) agama Buddha provinsi Sumatera Selatan yaitu Pak Wiswadas S.Ag., M.Ikom.

Tema kali ini diangkat berdasarkan situasi Waisak yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tanggal 7 Mei lalu kita merayakan Hari Raya Waisak dari rumah untuk mengantisipasi tertularnya virus Covid-19. Tujuan KMBP melaksanakan sharing session ini adalah agar kita dapat merayakan Hari Raya Waisak dengan damai dan sukacita, mengisi kekosongan batin serta mempraktekkan dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang bertanya tentang bagaimana cara kita merayakan Waisak dengan sukacita ditengah pandemi? Sebenarnya umat Buddha dapat merayakan Waisak dalam kondisi apapun. Kita harus siap dan mampu belajar dengan hukum anicca bahwa segala sesuatu terus berubah / tidak kekal. Waisak kali ini dihadapkan dengan wabah virus Covid-19, dimana kita tidak dapat bertemu dan berkumpul bersama. Namun, kita dapat merayakan Waisak secara sederhana dan bermakna dengan dirumah saja bersama keluarga.

Pada Waisak kali ini kita harus banyak merenungkan sebab masa lampau yang akhirnya berakibat pada munculnya virus Covid-19 hari ini. Hal tersebut berjalan sesuai hukum paticca samuppada (hukum sebab-akibat) yang saling bergantungan. Kemudian yakinnlah pada ajaran tilakkhana bahwa segala sesuatu akan mengalami perubahan (sabbe sankara annica). Kita harus percaya bahwa musibah ini akan mengalami perubahaan dan para Buddha, Bodhisattva, dewa dan dewi akan menjaga, memberikan bimbingan dan solusi untuk musibah ini.

Sabda Sang Buddha juga menghimbau umatnya untuk selalu berpikiran positif agar menjadi sukses, bahagia, dekat dengan para Buddha dan segala ketakutan menjadi sirna. Kita juga bisa membaca Tripitaka sebagai pedoman dan dasar pikiran. Selain itu, menanamkan kesabaran, pengendalian diri dan memiliki keyakinan adalah sikap-sikap yang harus ditumbuhkan untuk merasakan kebahagiaan dibalik penderitaan selama pandemi virus Covid-19 ini.

Dalam sharing session kali ini tentunya dibuka kesempatan untuk bertanya bagi teman-teman yang ingin tahu lebih dalam tentang tema “Damai Waisak Dalam Pandemi”. Berikut beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh teman-teman kita:

Ø Dari @Vandy_99:  Saya sering lupa bersyukur dan selalu mengeluh saat dihadapkan dengan dukkha. Bagaimana cara mengatasinya, Pak?

ü Pak Wis:   Bersyukur adalah sebuah rutinitas yang harus kita biasakan dalam kondisi apapun dan akan bermanfaat untuk menciptakan rasa bahagia dan mendewasakan diri sendiri. Terkadang kita lupa untuk bersyukur ketika mendapatkan keberuntungan dan selalu mengeluh ketika mendapatkan penderitaan. Terkadang penderitaan datang agar kita lebih bersyukur. Bersyukur dapat dilakukan dengan cara bermeditasi, membaca paritta, melakukan kebajikan dan membantu orang lain.

 

Ø Dari @sheilamitha:  Bagaimana cara mendamaikan kerabat yang sedang mengalami masalah ekonomi, kesehatan, atau masalah lain akibat virus Covid-19?

ü Pak Wis: Damaikan dan tenangkan diri kita terlebih dahulu. Dengan hati yang tenang, kita dapat berpikir dan membantu orang lain dengan memberikan banyak solusi. Contohnya melakukan aksi sosial dengan membagikan masker, makanan dan sembako merupakan hasil dari kedamaian dan ketenangan diri kita. Maka yang pertama harus kita lakukan adalah menenangkan diri sendiri terlebih dahulu agar dapat membantu sesama.

 

Ø Dari @Riohuang:  Apakah Bapak melaksanakan atthasila (puasa Buddhis) satu bulan sebelum Waisak? Bolehkah dijelaskan hal tersebut?

ü Pak Wis:  Saya terbiasa bervegetarian sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), tetapi terkait dengan atthasila, saya tidak melakukannya pada awal persiapan Waisak. Namun, meditasi sudah menjadi rutinitas saya dari pagi, siang, sore, dan malam yang juga dapat menjadi pahala kebajikan pada Hari Raya Waisak.

 

Ø Dari @aldobeckham6: Bagaimana cara agar dapat bahagia dengan dirumah saja?

ü Pak Wis: Dengan membuat suatu catatan di kertas dan tulislah 10 perbuatan menyenangkan selama masa pandemi Covid-19. Contohnya dengan menuliskan bahwa karena virus Covid-19 kita menjadi lebih dekat dengan keluarga. Dengan catatan tersebut, kita menjadi bahagia ketika berada di rumah karena catatan tersebut dapat tersimpan ke dalam memori pikiran kita. Hal ini membuat kita tidak akan menderita. Berusaha mencari hal-hal positif demi menutupi hal-hal yang negatif, akan membuat pikiran kita menjadi bahagia.

 

Ø Dari @Tharissa lorensia: Tips meditasi untuk pemula?

ü Pak Wis: Biasanya saya punya jadwal rutinitas meditasi di 3 tempat yaitu di Vihara Prajna Shanti di hari Selasa jam 19.30 malam, di vihara Amitabha Graha dan di Vihara Dharma Khirti hari Rabu dan Jumat jam 09.30 pagi. Karena kondisi pandemi Covid-19 ini, saya melakukan meditasi di hari Rabu pukul 19.00 malam untuk merenungkan dan membangkitkan kualitas diri.

Penulis: Yenny Soneta
Editor: Sheila Mitha Kalyani dan Erwin


Go Follow!

Instagram : Cittamagz


Youtube : Cittakmbp