counter

Minggu, 23 Februari 2020

Perayaan Magha Puja 2563 BE


Sumber foto: Humas KMBP



Hari Sabtu (8/2) muda mudi Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang (KMBP) melakukan perayaan Magha Puja di Vihara Samanta Bhadra Palembang. Lantas, apa itu perayaan Magha Puja?




Magha Puja adalah hari raya agama Buddha yang memperingati peristiwa pertemuan antara Sang Buddha dengan para arahat di Veluvana Arama di kota Rajagaha. Peristiwa ini terjadi di bulan Magha (sekitar bulan Februari atau Maret di kalender Masehi). Hari raya ini diperingati pada bulan purnama tiap bulan ketiga pada kalender Buddha. Bertepatan dengan 15 hari setelah tahun baru Imlek (Cap Go) yang pada malam harinya disertai bulan purnama (bulan penuh). Peristiwa Magha Puja setiap tahunnya diperingati dengan tujuan untuk mengenang dan merenungkan peristiwa agung yang terjadi pada bulan Magha.
Perayaan hari Māgha Pūjā sangat istimewa karena didasari pada kisah ketika sang Buddha berada dalam sebuah pertemuan dengan 1250 Bhikkhu Arahat yang telah ia tahbiskan secara langsung. Menurut cerita, pertemuan ini terjadi tepat sepuluh bulan setelah sang Buddha menggapai pencerahan. Selain itu, diceritakan bahwa pertemuan ini diberkahi oleh empat faktor (Cāturaṅga Sannipāta), yakni:
  1. Sebanyak 1250 murid menghadiri pertemuan tersebut tanpa adanya perintah sama sekali.
  2. Semua murid yang menghadiri pertemuan tersebut adalah arhat.
  3. Semua murid yang menghadiri pertemuan tersebut sudah ditahbiskan secara langsung oleh sang Buddha.
  4. Pertemuan itu terjadi saat hari bulan purnama di bulan Māgha.
Pada kesempatan agung itu, Sang Buddha menerangkan prinsip-prinsip ajaran yang disebut Ovada Patimokkha. Isi dari Ovada Patimokkha itu sama dengan syair yang tercantum dalam kitab suci Dhammapada bab XIV ayat 183, 184, dan 185 yaitu sebagai berikut :
  • Janganlah berbuat kejahatan,Perbanyak perbuatan baik,
    Sucikan hati dan pikiran,
    Inilah ajaran para Buddha.
  • Kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi.
  • “Nibbana adalah yang tertinggi,” begitulah sabda para Buddha.
  • Dia yang masih menyakiti orang lain,
    Sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).
  • Tidak menghina, tidak menyakiti,
    Mengendalikan diri sesuai dengan peraturan,
    Makanlah secukupnya,
    Hidup di tempat yang sunyi,
    Dan giat mengembangkan batin nan luhur,
    Inilah ajaran para Buddha.
Upacara pemujaan biasanya terdapat  prosesi pemujaan (dupa, lilin, air, dan bunga) di depan altar. Pada upacara Magha Puja, dilakukan pembacaan Magha Puja Gatha dan Paritta khusus Ovada Patimokkhadipatha dalam bahasa Pali secara bersama-sama atau dilakukan pembacaan salah satunya. Selanjutnya, dilakukan puja bakti, meditasi, nyanyian Buddhis dan dhammadesana oleh bhikkhu sangha mengenai makna peringatan Magha Puja dan terkadang juga melepaskan hewan dari penahanan. Peristiwa Maggha sangat bersejarah dan masih sering diperingati oleh umat Buddha, khususnya dari aliran selatan. Patimokkha ini sering dikatakan sebagai jantung ajaran agama Buddha. (By: Yenny. S)



Sumber
Buku Kunpulan Naskah Dharma Edisi 3 dari Yayasan Buddhakirti Palembang
https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/makna-hari-hari-suci-agama-buddha-2/


---------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Go Follow!
Instagram: Cittamagz
Youtube: Cittakmbp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar